Berlebaran tanpa pusing soal uang

Sumber : kontan

Reporter : Ruisa Khoiriyah, Diemas Kresna Duta

Editor : Ruisa Khoiriyah

Mudik hari raya idul fitri sudah menjadi ritual rutin pada setiap tahun yang memerlukan dana tidak kecil. apabila tidak mempunyai perencanaan keuangan yang tepat, kocek kita akan hancur lebur. persiapkan sumber dana dan atur pengeluaran dengan tepat agar mudik dan Lebaran berjalan tanpa stres pasca berlebaran wakakaka

JAKARTA. Jika ada satu tradisi khas yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Indonesia dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri, itu adalah mudik Lebaran. Kosakata bahasa Betawi yang konon merupakan ringkasan dua kata “menuju udik” alias pulang kampung tersebut telah menjadi kebiasaan penduduk kota-kota besar, apa pun suku dan agama mereka.

Budaya mudik Lebaran sulit dilepaskan dari profil masyarakat kita yang masih memiliki rasa kekeluargaan tinggi.Merayakan Lebaran di kampung bersama orangtua, keluarga besar dan tetangga, dan menikmati romantisme di kampung halaman, menjadi magnet besar bagi mayoritas orang Indonesia untuk melakukan mudik.

Namun, tradisi berlebaran di kampung halaman bukanlah tradisi yang mudah apalagi murah. Selain membutuhkan waktu dan energi khusus, mudik Lebaran ke kampung membutuhkan dana tak sedikit. Tak sedikit orang yang gagal menebus kangennya pada kampung halaman karena keterbatasan waktu, energi, dan dana. Akhirnya harus cukup puas berlebaran di tempat tinggal saat ini saja.

Kebutuhan dana untuk Lebaran dan mudik ke kampung memang besar. “Siapkan anggarannya sejak awal tahun atau setelah Lebaran,” saran Lisa Soemarto, perencana keuangan AFC Financial.

Terlebih, kita tahu, musim perayaan seperti hari raya selalu didahului kenaikan harga barang dan jasa akibat melonjaknya permintaan. Harga cabe hingga harga tiket pesawat, kompak membubung tinggi. Bahkan hingga ratusan persen!

Anda yang merayakan Lebaran dan berniat mudik tahun ini sangat mungkin menghadapi kebutuhan biaya yang semakin tinggi. Maklum, ada pukulan kenaikan harga beruntun yang telah terjadi sebelumnya. Yaitu, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi menjelang kedatangan bulan Puasa.

Ketahui ragam pengeluaran

Mudik dan Lebaran bukanlah hajatan mendadak. Sebagai rutinitas tahunan, semestinya pola kebutuhan dan tetek bengek terkait Lebaran dan mudik sudah kita ketahui.

Dus, persiapannya bisa dilakukan jauh-jauh hari. “Pola yang sudah diketahui jangan berhenti menjadi sebatas informasi,” kata Rakhmi Permatasari, perencana keuangan dari Safir Senduk dan Rekan.

Ada beberapa jenis pengeluaran yang harus kita siapkan anggarannya supaya acara Lebaran dan mudik ke kampung bisa berjalan mulus dan menyenangkan.

Pertama, biaya Lebaran. Untuk pos ini meliputi kebutuhan dana untuk membeli kue Lebaran mengantisipasi kedatangan sanak saudara, kerabat, dan tetangga, yang bertandang ke rumah.

Belum lagi dana untuk baju Lebaran dan angpao untuk saudara dan kerabat. Meski tak wajib, banyak orang yang akhirnya sulit menghindari dua jenis tradisi khas Lebaran itu.

Lebaran juga biasanya dimanfaatkan untuk membayar zakat dan menyebar sedekah kepada kaum yang membutuhkan. Dana untuk berbagai keperluan itu harus Anda siapkan, terlebih jika berkaitan dengan pemenuhan kewajiban agama. Terlepas dari Anda hendak mudik atau Lebaran di tempat tinggal saat ini saja.

Kedua, jika Anda berniat mudik Lebaran tahun ini, maka ada bejibun pos pengeluaran yang perlu Anda antisipasi sumber pembiayaannya. Yang paling utama adalah biaya transportasi. Ongkos transportasi pasti ada karena inti dari mudik adalah migrasi ke luar kota atau daerah.

Jika menggunakan kendaraan sendiri untuk mudik, Anda harus menyiapkan ongkos bensin dan anggaran maintenance kendaraan agar performanya fit mendukung acara mudik.

Sedang jika Anda menggunakan public transport, apakah itu bus, kereta api, atau pesawat, lebih baik membeli tiket dari jauh-jauh hari agar tidak terkena tuslah. Asal tahu saja, kendati bisa dipesan jauh-jauh hari, harga beberapa tiket transportasi publik kerapkali sudah dibanderol tinggi untuk tanggal-tanggal mendekati Hari Raya.

Ketiga, biaya selama di tempat mudik. Di mana Anda akan tinggal selama di kampung halaman? Jika rumah orangtua atau kerabat Anda memadai, mungkin Anda tidak perlu terlalu dipusingkan dengan ongkos akomodasi.

Namun, jika sebaliknya, maka ada biaya hotel atau penginapan yang perlu Anda siapkan. Jangan lupa memikirkan biaya makan dan jajan selama mudik, ya. Tentu tak elok jika kedatangan kita justru membebani tuan rumah sekalipun itu orangtua atau kerabat sendiri.

Bermudik ria identik dengan agenda bersilaturahmi kesana sini, bahkan momentum untuk piknik bersama keluarga besar. Anggaran perlu disiapkan lebih besar jika agenda mudik Anda padat merayap.

Keempat, pengeluaran untuk oleh-oleh dan angpao atawa salam tempel bagi keluarga dan kerabat di kampung. Jangan pula lupa, kelak jika Anda kembali dari kampung, biasanya juga “ditagih” oleh-oleh dari kampung.

Kelima, pengeluaran atau ongkos menjaga barang atau harta yang Anda tinggalkan selama mudik. Seperti rumah atau mobil. Pos ini tentu tak perlu jika Anda merasa cukup aman meninggalkan rumah dan mobil tanpa penjaga selama mudik.

Keenam, anggaran biaya hidup pasca mudik. Acara mudik rata-rata berlangsung paling lama sepekan. Selebihnya, hidup akan berjalan normal seperti biasa.

Banyak kasus di mana orang membabi buta menghabiskan gaji dan tabungannya sekadar untuk keperluan mudik saja. “Padahal sepulang mudik, belum langsung gajian kan? Anggaran bertahan hidup hingga gajian lagi, harus juga kita siapkan,” ujar Rakhmi.

Nah, setelah mengetahui jenis-jenis pengeluaran, berikutnya adalah menyiapkan anggaran alias duitnya. Berikut tips dan strategi yang dibagi oleh para perencana keuangan khusus dalam menyiapkan hajatan mudik Lebaran sehingga tidak membakar isi kantong :

Periksa kantong

Lebaran pada prinsipnya adalah berbagi kebahagiaan karena berhasil meraih kemenangan pengendalian hawa nafsu selama Ramadan. Namun, realitanya jauh asap dari panggang. “Masyarakat kita cenderung permisif melihat pengeluaran saat Lebaran, bahkan konsumtif menghamburkan uang saat hari raya,” kritik Lisa.

Jika Anda sepakat dengan spirit Lebaran yang ideal, semestinya tak perlu berlebihan dalam merayakan hari besar itu. Periksa dulu kondisi kantong Anda. Sesuaikan gaya berlebaran Anda dengan kondisi dompet. Nah, jika merencanakan mudik, itu berarti pos pengeluaran akan jauh lebih berderet panjang. Mampukah kantong Anda menanggungnya?

Jika arus kas Anda sudah defisit terus-terusan sejak sebelum Ramadan hingga dana darurat di tabungan tergerus, sedang di sisi lain anggaran khusus untuk mudik belum ada, maka itu menjadi sinyal merah.

Anda perlu menimbang lagi keinginan mudik jika kondisi keuangan tak memungkinkan. Percayalah, silaturahmi bisa dilakukan lewat banyak cara saat ini. Manfaatkan telepon atau internet untuk mengobati kangen pada kerabat di kampung halaman. Murah dan tetap mampu memenuhi tujuan mudik yang utama, yaitu silaturahmi keluarga.

Siapkan pendanaan

Ada beberapa sumber dana yang bisa Anda manfaatkan untuk membiayai keperluan Lebaran dan mudik. Pertama, dana Tunjangan Hari Raya (THR). Sesuai namanya, THR merupakan sumber dana yang “sah” Anda gunakan sepenuhnya untuk hari raya, termasuk untuk mudik.

“Boleh dihabiskan tapi tetap harus kita sesuaikan kebutuhan. Jika masih ada utang, lunasi dulu utangnya baru sisanya untuk keperluan hari raya,” saran Eko Endarto, perencana keuangan Finansia Consulting.

Besar THR sangat beragam tergantung di mana Anda bekerja. Namun, rata-rata paling besar hanya dua kali gaji bulanan. Dengan laju kenaikan harga barang dan jasa yang super seperti saat ini, boleh jadi THR Anda tidak mencukupi.

Kedua, gaji bulanan. Angka THR belum memadai kebutuhan dana mudik, maka Anda bisa memanfaatkan dana dari gaji bulanan. “Porsi ideal penggunaannya adalah 60%-80% dari pendapatan,” ujar Lisa.

Jangan menghamburkan sepenuhnya gaji bulanan untuk hari raya. Anda harus menyiapkan pula anggaran biaya hidup setelah pulang mudik.

Buat perincian anggaran

Sumber dana untuk Lebaran dan mudik sudah ada, saatnya memperinci pengeluaran untuk bulan istimewa itu. Bagi anggaran dalam tiga kelompok besar.

Pertama, anggaran kebutuhan rutin rumahtangga. Pos ini berisi belanja bulanan, pengeluaran untuk listrik/air/internet/telepon, entertainment, hobi, belanja kosmetik, hingga iuran perumahan dan cicilan utang KPR atau mobil.

Anggaran rutin ini diasumsikan untuk keperluan satu bulan. Usahakan besar anggaran rutin sama dengan besar anggaran bulan-bulan sebelumnya.

Jika ada satu pos rutin yang terlanjur bengkak, Anda bisa menghemat di pos lain yang kurang penting. Contoh, pos belanja bulanan naik 20% karena kebutuhan selama Puasa.

Anda bisa memangkas biaya di pos lain seperti pos hobi, entertainment, kosmetik, biaya jajan di luar rumah, dan sejenisnya. Ini agar arus kas bulanan tetap proporsional dan ketahanan keuangan Anda terjaga hingga acara Lebaran dan mudik berakhir.

Kedua, anggaran Lebaran. Termasuk di sini adalah, belanja kebutuhan Lebaran mulai dari kue Lebaran, bingkisan Lebaran, THR pekerja rumah tangga, baju hari raya, hingga kewajiban zakat jika Anda belum membayar untuk tahun ini.

Ketiga, biaya mudik. Di antaranya, biaya tiket mudik pulang pergi atau anggaran bensin jika mudik memakai kendaraan pribadi. Membeli tiket jauh-jauh hari akan meringankan arus kas Anda saat Lebaran.

Berikutnya, biaya akomodasi selama di kampung. Jika rumah kerabat masih memungkinkan ditinggali, tak perlu rasanya menyewa penginapan. Sedikit berdesak-desakan dengan kerabat yang lain justru menambah manis kenangan mudik Anda.

Siapkan juga anggaran untuk makan dan agenda selama di kampung, termasuk angpao yang hendak Anda bagi pada kerabat jika ada.

Setelah memperinci, Anda mungkin bakal terbelalak melihat besarnya pengeluaran untuk momen tahunan tersebut. Anda beruntung jika THR dan gaji bulanan Anda memadai bahkan bersisa untuk membiayai pos-pos tersebut. Bagaimana jika sebaliknya?

Cobalah me-review lagi pos-posnya. Siapa tahu ada pos yang memungkinkan untuk dipangkas agar arus kas tak defisit. Misal, angpao untuk keponakan yang semula dianggarkan Rp 50 ribu per anak, tidaklah haram jika dipangkas menjadi Rp 20 ribu per anak.

Sedang untuk bingkisan Lebaran, tak perlu memaksakan diri memberikan bingkisan berisi barang-barang mahal. Ingat, yang terpenting dari makna Lebaran adalah silaturahmi dan berbagi semampunya. Tapi, jika sulit memangkas anggaran hadiah untuk kerabat, mengapa bukan kebutuhan Anda pribadi saat Lebaran yang dipangkas?

Misalnya, hapus saja pos pembelian baju Lebaran. Baju lama Anda mungkin masih layak pakai untuk merayakan hari raya tahun ini. Untuk menghemat biaya mudik, Anda bisa siapkan makanan bekal selama perjalanan mudik sehingga tak perlu keluar ongkos lagi di jalan untuk makan.

Lantas, bagaimana jika THR dan gaji bulanan tetap tak cukup menutup semua kebutuhan itu? Bolehkah memakai dana darurat? Sebagian perencana keuangan mengizinkan itu. Namun, “Posisi dana darurat di sini hanya sebagai pendukung hidup setelah Lebaran dan mudik, bukan untuk membiayai dua agenda itu,” ujar Eko.

Rakhmi berpendapat sebaliknya. Dana darurat adalah untuk keperluan darurat. Sedangkan mudik bukan hal genting karena sudah terprediksi dan bisa ditunda pelaksanaannya. Adapun Lebaran juga tidak akan berkurang makna jika dirayakan dengan sederhana.

Dengan begitu, berutang untuk membiayai keperluan konsumtif selama Lebaran, menjadi sangat terlarang dalam konsep perencanaan keuangan.

“Orang yang berutang atau memanfaatkan kartu kredit saat Lebaran adalah mereka yang tidak punya pengendalian dalam keuangan,” tandas Budi Raharjo, perencana keuangan One Consulting.

Meski Anda bisa membayarnya kelak, berutang sekadar untuk keperluan konsumtif Lebaran, cuma akan memporakporandakan kondisi kocek Anda.

Nah, di atas kertas, arus kas Anda tetap aman Lebaran dan mudik. Namun, lebih baik Anda tetap menjaga disiplin dalam membelanjakan anggaran tersebut. Kerapkali perencanaan cantik di atas kertas, namun ketidakdisiplinan membuat anggaran malah bocor di mana-mana.

Jangan ulangi lagi

Lebaran telah berlalu, acara mudik di kampung pun berjalan sukses dan menyenangkan. Saatnya mengevaluasi anggaran Lebaran dan mudik, apakah overbudget atau malah masih bersisa? Jika masih bersisa, Anda bisa memanfaatkannya untuk melunasi utang yang ada, menambah porsi dana darurat, atau menambah investasi bulanan.

Bagaimana jika sebaliknya? Mungkin itu artinya sudah tidak ada alasan lagi bagi Anda untuk abai dengan kebutuhan mempersiapkan anggaran Lebaran dan mudik lebih awal.

Anda punya waktu sedikitnya 11 bulan untuk menyiapkan keperluan Lebaran dan mudik tahun depan. “Siapkan dananya sejak di awal tahun ketika kita mulai merencanakan anggaran tahunan,” saran Budi.

Misal, tahun ini biaya Lebaran dan mudik Anda Rp 10 juta. Dengan asumsi inflasi 15%, maka kebutuhan Lebaran tahun depan mencapai Rp 11,5 juta. Besar THR tahun depan sekitar Rp 5 juta. Maka, sisa kebutuhan dana bisa Anda dapatkan dengan menyisihkan Rp 530 ribu per bulan di reksadana pasar uang berimbal hasil 4% per tahun.

Bisa pula menyisihkan di bawah itu, sehingga sisa kekurangannya bisa ditambal oleh gaji bulanan. Dengan perencanaan dan disiplin, Lebaran bisa Anda nikmati dengan lebih tenang dan menyenangkan. Selamat mudik dan merayakan Lebaran!